Revolusi Ketiga
Tidak bisa disangkal lagi, Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden iran yang paling Kontroversial sejak revolusi islam 1979 dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini. Dia adalah presiden yang tidak berasal dari kaum Mullah yang selama sepuluh tahun mendominasi hampir semua pos kekuasaan di Iran. Mereka telah menjadi status-quo yang sangat dominan di Iran.
Dia juga bukan dari kalangan elit yang dekat dengan lingkaran kekuasaan. Dia tidak memiliki track record politisi dengan sebagian besar sumber daya untuk meraih pucuk kekuasaan. Dia hanyalah seorang revolusioner yang berhasil merebut hati masyarakat di tingkat akar rumput. Satu-satunya modal politiknya adalah Asketismenya yang untuk standar rakyat iran sekalipun sudah cukup mencolok. Watak asketik it uterus dia pertahankan selama menjabat sebagai gubernur Ardabil periode 1993-1997 dan walikota Teheran periode 2003. Rumah dinas walikota Teheran yang sedemikian mewah itupun dihibahkan sebagai mesium. Mengingatkan kita pada apa yang telah dilakukan oleh imam Khomeini 27 tahun silam terhadap semua istana Syah Iran.
Drama Ahmadinejad pada 2005 bermula saat sekelompok professional bernama insinyur komunitas Islam dan Aliansi Pengembangan Islam Iran yang mencalonkan Ahmadinejad untuk bertarung memperebutkan kursi presiden Iran keenam. Pada 2 februari saat departemen dalam negeri Iran membuka pendaftaran dia masih mengungkapkan keraguannya, mengingat programnya sebagai walikota Teheran belum tuntas dia jalankan. Berbagai kalangan kemudian mendesaknya untuk maju. Pada titik ini sang revolusioner merasakan bahwa dia harus maju untuk menggelindingkan apa yang disebutnya sebagai revolusi 1384 H.S(2005) atau Revolusi ketiga dengan semboyan “itu mungkin dan bisa kita lakukan!”(Misyavad va Mitavonim). Revolusi ketiga ini menyasar pada sekelompok elit Iran yang ikut berjuang dalam revolusi 1979, tetapi pelan-pelan bergeser menjadi status-quo yang menikmati kekuasaan dan melupakan bahwa perjuangan mereka adalah untuk rakyat kebanyakan.
Dalam pandangan rvolusioner Ahmadinejad, Negara seperti Amerika Serikat itu mustahil dapat berperan positif bagi kemajuan bangsa Iran. Untuk tidak mengatakan akan selalu bermusuhan dengan bangsa Iran. Berbagai pernyataannya seputar nuklir dan Israel menyulut kemarahan sang Adikuasa(Amerika Serikat). Akan tetapi, Ahmadinejad tetap bersikukuh pada pendiriannya. “ jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?”. Inilah pernyataan Ahmadinejad yang sempat membuat heboh bangsa barat.
Nah, kalo temen-temen penasaran tentang siapa sih sebenarnya Ahmadinejad itu, silahkan baca buku biografinya. Sumber dari salah satu bukuku “ Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia”.