Feeds:
Tulisan
Komentar

Basink Band

Terbentuk pada tahun 2003, terdiri dari 5 orang yang solid, band ini mulai mengayunkan langkahnya di belantara musik. Basink Band. Nama Basink diambil dari salah satu bahasa keseharian masyarakat Sumbagsel(Sumatera Bagian Selatan) yang berarti ”terserah”. Kebetulan empat dari personil mereka berasal dari Sumbagsel. Terserah menurut mereka mengandung arti yang bebas dalam menyampaikan perasaan hati mereka dalam bingkisan partitur. Aliran musik yang menjadi nafas mereka adalah Funk Rock.

Saat itu seluruh personil merupakan mahasiswa dari dua perguruan tingggi berbeda. Pertemuan mereka adalah temannya dari teman, hm.. ya begitulah… Band ini digawangi oleh Tomy(Vocalis), Frans(basis), Yudi(Gitar1), Mpie(Gitar2) dan Tio(drumer).

Telah banyak lagu tercipta dari persekutuan mereka. Beberapa sudah mereka coba rekam meskipun sifatnya baru life. Diantaranya adalah Angin malam, Bunda, Nada Kesunyian dan Tercipta Hari Ini. Lagu-lagu tersebut merupakan hasil dari kreatifitas mereka dalam memainkan not nada dan instrumen. Yah, namanya band yang sedang dalam tahap belajar, tentunya hasilnya pun tak sesempurna musisi handal negeri ini, bahkan masih jauh dari sempurna. Mereka masih perlu banyak belajar dan mengenal lebih dekat dunia nada.

Basink band sekarang,

Seiring dengan selesainya status mereka sebagai mahasiswa, band ini pun seperti tak bernafas lagi. Masing-masing personil telah mulai disibukkan dengan pekerjaan mereka dan dua diantaranya telah pergi meninggalkan Jogja. Frans mendapat kerja di Banten dan Mpie di Jakarta. Jangankan bisa bertemu menciptakan lagu baru, untuk berhubungan lewat telpon saja sulit. Hal itu dikarenakan kesibukan mereka yang sampai menyita waktu.

Lagu-lagu indah yang telah mereka ciptakan, telah membisu untuk bernyanyi. Bersembunyi di dalam folder yang bernama Demo Basink dan seperti merindukan untuk bergemuruh didalam studio musik saat latihan. Entah sampai kapan Basink band akan terdiam. Atau memang hanya berakhir dengan diam?

Seorang putri “Koi”

Instrumen dari lagu Kitaro yang berjudul “KOI” ku add di playlist winamp. Mendengar lagi ini…membuat perasaanku menjadi tenang, nyaman dan ringan. Seperti ada dorongan kuat dalam diriku, untuk menggerakan jemari menuliskan sebuah ungkapan yang terpendam sementara waktu. Namun aku belum tahu, apa sebenarnya itu. Lagu koi yang awalnya ringan.., melayangkan jiwaku dalam sebuah taman hijau yang sejuk. Suara melody dari lagu ini..seperti sedang membisikan padaku sebuah cerita roman kehidupan dengan selaksa peristiwa.

Kupejamkam mata..kulihat seorang putri cantik menari riang..tersenyum manis dan memandangku dengan teduh. Rambut panjangnya yang lurus dan hitam itu, terurai serta melambai-lambai oleh ajakan sang angin. Kucoba dekati dia untuk sekedar menyapa. Kedua tangankupun disentuhnya…dia mulai menggerakkannya sebagai sebuah isyarat kepadaku..untuk mengajak berdansa menikmati alunan dari lagu ini. Pertama aku hanya menggerakkan kepalaku, kedua tanganku tak henti-hentinya dia gerakkan pelan pun kekanan dan kekiri. semakin lama dia mulai mengajariku merasakan kegembiraan dalam sebuah gerakan yang lebih. Sebentar saja aku sudah mulai bisa berdansa sambil memeluk tubuh ramping putri itu mesra serta memandang kedua bola matanya yang bulat mempesona. Kulitnya halus bagai sutra, putih-memancarkan sinar kecantikan luar biasa. Hatikupun riang dibuatnya, Rasa bahagia oleh karena ketulusannya. 

            Nampaknya kebahagiaan itu tak berlangsung lama…karena hanya sebatas hayal tanpa fakta. Namun takkan aku menyesalinya. Walau sebentar, aku sudah bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang murni dari putri itu. Ku buka mataku pelan-pelan..Kuambil di almari kayu disudut kamar, sebuah Album Foto. Lembar perlembar sudah kuteliti foto-foto itu. Tak kutemukan satupun disana, sosok putri yang berdansa denganku tadi. Hampir semua Album kucari namun tiada hasil.

            Siapakah kamu sebenarnya, hai Seorang putri? Jika kamu sudah pernah hadir dalam hidupku knapa aku tak menemukanmu di setiap Album fotoku? Apakah memang, aku pernah mengenalmu? Ataukah kamu baru akan hadir dalam hidupku untuk beberapa waktu nanti? Atau mungkin hanya seorang putri yang bisa untuk sekedar kusapa saja dalam anganku saja? Kenapa justru harus kupejamkan mataku  agar bisa melihatmu dengan jelas? Aku menunggu hadirmu, wahai seorang putri Koi ku.         

Momen Seperempat Abad

Malam ini, Pada menit pertama dan detik pertama memasuki tanggal 21April, aku coba menulis sedikit saja mengenai Instropeksi Tahunan ini dalam sebuah permenungan. Mencoba melihat diri dalam remang ingatan. Kuambil beberapa Puzzle cermin hidup yang berantakan dibelakangku yang selama setahun terinjak-injak dan terlupakan. Dimana Cermin itu seharusnya aku bawa dalam tas bekal hidup. Bukan terbengkalai seperti ini. Kurangkai satu-persatu secara perlahan agar pecahan itu tak melukai jariku. Setelah selesai kususun, aku mulai bercermin didalamnya walau dengan bentuk tak sempurna akibat sudah tak utuh lagi.

Momen Seperempat abad, momentum yang penuh selaksa makna yang mewarnainya. Proses pendewasaan yang seharusnya semakin matang, semakin kokoh akan prinsip hidup. Semalaman aku hanya merenung, bukan untuk berhenti menyesali apa kekuranganku selama 25th kemarin, namun lebih pada evaluasi diri. Yang lalu, hanya bisa menjadi nilai-nilai pendorong akan penampakan sebuah tujuan saja.

Hendak kutanya ke cermin itu hingga kudapatkan jawabannya. Walau sedikit tak berdimensi, paling tidak aku bisa melihat dan mendengar dia berkata-kata. Sesekali ku bersihkan permukaannya agar dapat sedikit kulihat dalamnya.

Dalam pejam mataku, kucoba susun beberapa kalimat indah. Ditujukan pada Sang Maha yang memberi hidup dan yang kelakpun berhak memintanya kembali. Doa. Kukirim dalam bingkisan puja dan berserah diri seutuhnya akan masa depan dan kehidupan. Tuhan punya rencana dibalik semua peristiwa yang aku alami. Dan aku patut untuk mensyukurinya.

Malam itu 19Apr08, MP poin penuh sesak dijejali manusia yang hendak ikut bedah buku dengan Andrea Hirata. Momen yang jarang bisa ditemui di Jogja. Lantaran Andrea Hirata Adalah sosok penulis buku sastra yang karyanya cukup sering didengar akhir-akhir ini. Buku laskar pelangi karyanya, telah terjual lebih dari 500.000 Copy. Begitu ramainya malam itu, hingga banyak peserta tidak kebagian tempat sehingga harus melihat dari luar pagar berkawat duri yang tinggi itu. Aku datang terlambat 10 menit, sehingga sudah tidak ada tempat duduk ditikar. Kedua temankupun yang datangnya lebih dulu dari aku, terpaksa berdiri di bagian belakang. Karena tidak ingin melewatkan momen ini, aku nekat menerobos ke depan dengan tidak menghiraukan orang-orang yang kulewati. Hingga akhirnya, aku berhenti di pinggir kiri agak depan yang sudah lepas dari tikar, diatas rumput taman kecil. Setiap MC berbicara, aku sedikit menutup telingaku. Karena ternyata aku persis berada di depan Sound System besar. Aku baru sadar, kenapa tempat ini masih kosong dari tadi. Hanya orang gila yang mau duduk didepan dentaman suara Sound berwaktu-waktu. Tak apalah, yang penting bisa melihat dengan jelas dan agak dekat, sosok melayu Andrea Hirata.

Acara malam itu dimulai dengan pembukaan, Musik dan kuis-kuis yang seakan memang enggan untuk langsung ke pokok acara. Tibalah saatnya, Suara dentaman kedua MC yang keras, memanggil sebuah nama “kita sambut bersama-sama Andreaaaaa……..Hirataaaaa…….”. Kontan semua peserta yang memadati ruangan itu berteriak histeris. Muncul dari balik Backdrop, sosok melayu, berambut ikal, dengan topi khas Che Guevaranya, perawakan agak sedikit gemuk, berjalan menuju ke tengah panggung. Dialah Andrea Hirata. Bak artis Hollywood, kilatan lampu blitz kamera dari berbagai sudut terus menerus menghujani wajah si Ikal itu. Aku pun tak mau ketinggalan. Berkali-kali aku ambil gambarnya. Sayang sekali, karena kualitas kameraku yang kurang memadai untuk modus malam, maka hasilnya sangat tidak memuaskan. Tidak apalah, yang penting ada beberapa gambar yang sedikit jelas.

Andrea Hirata, Menjawab beberapa pertanyaan, bercerita tentang dirinya dan Laskar pelangi Serta memberikan beberapa masukan bagi para penulis muda (pemula), dengan khas melayunya. Kecerdasan sudah nampak dari cara bicaranya yang terkonsep. Menjelaskan hal-hal rumit namun tampak mudah untuk dipahami. Dia juga bercerita, bahwa saat ini dia sedang menggarap film layar lebar “Laskar Pelangi” yang shootingnya baru akan dimulai bulan May. Hm… jadi penasaran, seperti apa sih visualisasi Laskar Pelangi. Andai saja aku mendapat tawaran untuk ikut dalam film itu, jadi Bodenga pun aku mau. Walaupun peran ini tak pernah ada dialognya dan harus menciumi buaya.

Rasa kecewa tampak diwajah para peserta. Setelah acara selesai, panitia telah merencanakan untuk dengan acara “Book Sign”. Namun, dengan alasan bahwa Andrea Hirata sedang dalam kondisi lelah karena seharian telah banyak kegiatan maka acara tersebut di batalkan. Huuuuu……………… begitulah ungkapan dari para perserta yang sudah berharap-harap sekedar tandatangan dari si Ikal. Hm.. ya sudahlah, kami semua akhirnya meninggalkan tempat itu walaupun masih ada acara penutupan dengan musik-musik yang bagi kami, sudah tidak ada indah-indahnya sama sekali. Hilang oleh rasa kecewa.

Josephin Teman Baruku

Senin 14Apr08, perasaan gundah memayungiku semenjak jam 4 sore. Berkali-kali aku SMS ke saudaraku yang dirumah. Hanya untuk menanyakan “Apakah sudah datang?” …dan pertanyaan dengan 3 suku kata itu hanya dibalas “belum”. Semakin sering jawaban itu seiring SMSku kesana semakin pikiranku menjadi tidak tenang. Menurut kabar yang aku dengar seharusnya Josephin sudah sampai di rumahku jam 4. kalaupun lebih, tidak akan sampai lebih dari jam 5. Jam 6 dan Jam 7 sudah resmi aku lewati dan masih belum ada kabar juga. Aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Hingga pada akhirnya, jam 7.30 malam, mendadak saudaraku kirim SMS yang isinya mengatakan bahwa Josephin sudah sampai di rumah dengan Selamat. Senang sekali rasanya aku mendengar kabar itu. Sayang, aku baru bisa pulang setelah jam 10 malam. Padahal rasa sudah ingin bertemu dengannya semakin bergejolak.

Sesampainya di rumah, langsung aku bergegas menemui Josephin. Dia sudah tidur di kamar yang kebetulan sudah tidak berpenghuni. Ku buka pintu kamar itu pelan. Senyum dan rasa senang seakan telah spakat untuk hadir dalam diriku. Terlihat disana, Josephin dengan keanggunan dan semangatnya, telah menungguku untuk berpetualang mengelilingi jagat ini. Ku sentuh tubuh mulusnya itu dari ujung ke ujung. Menyenangkan sekali bisa dipertemukan dengannya.

Honda New MegaPro, buatan dan rakitan tahun 2008, dengan kapasitas silinder 160, berwarna hitam-List silver itulah yang ku sebut-sebut sebagai Josephin. Sebuah motor dengan kecepatan maksimal mencapai 180 km/jam dan kapasitas tangki bahan bakar 12,5 liter sangat cocok sekali dengan hobi petualanganku. Motor ini adalah impianku sejak dulu. Ku beli dari hasil tabunganku sebagai buruh tiket yang selalu menjadi korban Void dan Komplain.

Nama Josephin aku berikan padanya karena didalam hidupku, pernah ada seseorang wanita dengan nama itu yang sempat singgah untuk sementara waktu dalam rasaku. Selama persinggahannya, dia telah banyak berperan dalam masa pendewasaanku. Menyadarkan dan membuatku lebih menghargai hidup serta tujuannya.

Buat Josephin, terimakasih banyak atas bantuanmu dulu. Walaupun sekarang aku tidak tahu kamu dimana, namun aku selalu berdoa untukmu. Smoga Tuhan selalu mendampingi langkahmu dalam hidup dan karya. Maaf kalau waktu gempa 2006 kemarin, aku nggak membantumu, padahal rumahmu ikut rata dengan tanah. Salam untuk kedua orang tuamu yah. bye…

Catatan: cerita ini hanya mendramatisir dari kenyataan, jika ada kesamaan cerita dan tokoh semuanya bukan kebetulan saja.

 

 Buku ini telah membuatku merasa terbang jauh meninggalkan kota Jogja menuju Belitong tuk sekedar menyaksikan 3 anak muda bernama Ikal, Jimbron dan Arai. Di tepi pantai dekat dermaga ada  sebuah los kontrakan yang mereka sewa. Dari sana, aku duduk menyaksikan perjuangan anak-anak melayu yang amis oleh bau ikan dan kumuh itu bekerja menjadi kuli angkut. Perjuangan demi mimpi-mimpi mereka membuatku berdiri dan memberikan tepuk tangan yang bersemangat sebagai bentuk kekagumanku. “kita tak’kan pernah mendahului nasib!” teriak ikal. Aku setuju dengan kata-kata itu. Mereka bertiga telah mengalahkan keputusasaan dan ketakberdayaan dengan perjuangan yang gigih akan cita-cita mereka.

Aku mencoba melihat dalam diri sendiri dan aku semakin mengerti akan sesuatu. Apa yang lebih berharga dari yang kita punya sekarang ini? atau yang telah kita peroleh sebagai hasil jerih payah sendiri? Melebihi dari emas dialmari toko Semar atau berlian yang sering dikenakan oleh kebanyakan wanita kaya yang hanya untuk menunjukkan status kelas mereka.  Hm… Dialah Mimpi(Cita-cita). Sebagai oasis energi, untuk memompa semangat kita, hingga karenanya kita bisa bangkit dari rasa pesimis, segera menggebrak meja dengan kepalan optimisme seraya berkata “Aku bisa! Tunggulah kau disana! Sebab, darah ini sudah melonjak girang menyambut kehadiranku kembali.”. Dengan bermimpi, kita telah mempercayakan masa depan kita oleh konduktor paling jenius yang memimpin seluruh urat syaraf kita untuk memainkan lagu dalam sebuah orkestra kehidupan, Yah, mimpi itu yang sepantasnya menempati singgasana penghargaan, dari perjalanan dan perjuangan hidup setiap orang. Mimpi akan Cita-cita, memberikan kita benang merah inti hidup dalam bingkai ukir jepara nan indah.

Yang terpenting bukanlah apa yang kita punya saat ini, melainkan apa yang akan kita rencanakan dikemudian hari. Seberapa besar semangat kita untuk melangkah lebih jauh meninggalkan sampah-sampah pesimisme limbah dari pabrik kekecewaan kita terhadap hasil buruk.

Buku Edensor masih belum sempet aku beli. Tanggal 19apr besok, Andrea Hirata hadir di MTpoint jakal km.6 lho. Buat temen-temen yang mau minta urek-urek di bukunya, dateng aja yah. Acarane jam 19.00-selesai. Nek mau mangkat bareng aku, tak tunggu didepan Turindo ya jam 18.30 –an. hehehee

              

 

 

Andai Sayapku Bisa Berkembang...Kerasnya bunyi air mengisi bak kamar mandi dan falsnya teman kosku bernyanyi..membangunkanku dari peraduan tidurku pagi ini. Kubuka pintu kamar dan menuju ke dapur untuk memasak air. Kucuci gelas bekas kopi semalam yang masih tersisa cete sedikit dan kuracik kopi lampung tjap bintang kiriman ibuku kemarin. Air dalam heater itu telah menari2, melonjak-lonjak kegirangan untuk menandakan dia sudah mendidih meminta untuk segera dipertemukan dengan sang bubuk kopi serta ratusan butir gula. Kuseduh dan kuaduk kopi itu sebanyak 18 kali agar rasanya nikmat. Sedikit demi sedikit air yang sudah berwarna hitam pekat itu aku minum sampai habis hampir setengah gelas.

Mendadak, jantungku berdetak kencang sekali…nafasku terengah-engah. Tanganku bergetar kencang, melebihi vibrasi pada handphone. Mencoba untuk bangkit dari tempat duduk, aku malah tersungkur di atas amplifier sebagai pengatur bunyi lagu dari winamp yang kebetulan terletak di meja samping komputer. Saudara kembarku, yang kebetulan sedang tidur tersentak kaget melihatku berjimpangan lemah tanpa daya itu. Dia memanggil teman-teman kos yang sudah bangun. Aku dibaringkan di atas kasur dan bagai seorang wartawan KR, dia selalu menanyaiku “kamu knapa? Gimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?”. Terus berulang-ulang pertanyaan itu walaupun belum sempat aku menjawab lantaran aku sendiri tidak tau, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kurusku ini. Dikeadaan panik seperti itu, tiba-tiba aku merasakan dua buah benjolan besar muncul dari punggungku. Tepat di bawah bahu-diujung tulang lenganku. Dua benjolan, yah dua buah. Masing-masing sebelah kanan dan kiri punggungku. Benjolan itu kurasakan semakin besar dan bahkan sampai merobek kaos hitam bertuliskan Detik Forum karena kebetulan semalam ada rapat Baksos Komunitas DetikForum dan belum sempat kulepas kaos itu sampai pagi.

Saudara kembar dan beberapa temanku semakin panik. Mereka berhamburan keluar, lari kesana kemari , menelpon orangtuaku di Lampung dan beberapa kenalan yang mempunyai mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Situasi semakin gaduh disaat benjolan itu semakin besar, dan aku semakin menggeliat menahan sakit, berteriak keras sampai serak. Seakan pita suaraku pun sudah mengundurkan diri dari tugasnya karena terus-terusan dipaksa bekerja rodi untuk berteriak. Detak jantungku selaksa metronome dengan tempo 120. Berdetak seperti permainan double pedal dari lagu Evil milik Heavenly di album Dust to Dust. kegaduhan itu pada akhirnya terhenti karena dari punggungku terdengar bunyi yang asing bagi telinga kami. Inilah puncak dari apa yang sebenarnya telah menimpaku. Yang tlah membuat teman-teman kos harus bangun 5 menit lebih cepat dari hari biasanya. yang membuat suara fals temanku yang mandi harus di hentikan secara paksa. Dan yang telah membuat kedua orang tuaku memutuskan untuk segera menuju Jogja, tempat aku menjalani hidup sekarang ini sebagai perantau.

“Breeeee………p”. suara itu hanya terdengar sekali, namun pasti. Teman-temanku hanya menatap takjub sekaligus takut dengan benda yang muncul dari punggungku. Dua buah sayap besar, berwarna putih bersih. Beberapa bulu kecil yang rontok dari sayap itu beterbangan didalam ruang kamarku. Sayap-sayap itu lebih mirip dengan sayap burung bangau. Dari pangkal sayap sampai ke lekukan tingginya hampir sama dengan kepalaku. Panjang sayap dari lekukan ke ujung bawah hampir menyentuh tanah. Semakin keujung, semakin besar bentuk bulunya namun semakin sedikit jumlahnya.

Nafasku masih terengah-engah namun pikiranku yang tadinya kalut tidak karuan mendadak tenang. Seperti ada angin sejuk berhembus di wajahku. Angin sejuk yang belum pernah aku rasakan, telah menamparku dan memberikan efek luar biasa. Fisikku yang tadinya lemah menjadi kuat. Seperti tidak terjadi apa-apa. Detak jantungkupun perlahan berdegup tenang. Aku berdiri memandang mereka. Aku tau bahwa ada sayap di punggungku. Anehnya, aku tidak kaget ataupun takut sama sekali. Bahkan aku bisa merasakan bahwa kini aku mempunyai empat tangan. Dua adalah tangan lamaku, dan yang dua adalah sayap-sayap baruku. Aku berjalan keluar kamar sambil tak henti-hentinya memandang mereka. Sesampainya di pelataran depan kamar, mendadak aku melihat sebuah cahaya putih..namun tak menyilaukan dari atas sana. Dari tempat sang mendung tinggal dan sang hujan dilahirkan. Dari balik awan-awan, terus-menerus sinar itu menerangiku. Seperti lampu Follow yang ada di Socitet Militer untuk menegaskan fokus panggung dalam sebuah pertunjukan.

Kucoba kepakkan kedua sayapku. Semakin kuat dan sering aku mengepakkannya, semakin kulihat kedua kakiku terangkat dari bumi. Dan semakin tinggi aku terbang hingga bisa melihat bentuk kosku dari sudut yang belum pernah aku lihat. Aku berteriak kencang dan senang lantaran mukjijat pagi ini. Ingin rasanya aku berkeliling, terbang kemanapun aku bisa. Belum sempat terbesit keinginan-keinginan itu, aku memandang dari arah sinar yang menerangiku. Hm… “apa ya yang ada diujung sana?” gumanku. Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, aku kepakkan sayap-sayap baruku menuju ke arah sinar putih itu berasal. Tinggi dan semakin jauh aku meninggalkan bumi. Setelah hampir 25menit aku melihat keganjilan di ujung sinar itu. Samara-samar aku seperti melihat sebuah taman berumput hijau, bertaburkan berbagai macam bunga. Segera aku mendaratkan kakiku di sana. Tempat itu indah sekali. Hanya bunga, kupu-kupu, aneka jenis tanaman taman ada disana sejauh mataku memandang. Belum selesai aku mengagumi tempat itu, dari belakang aku dikagetkan oleh suara pelan. Suara itu agak kecil melengking seperti suara nenek-nenek umur 68 tahun. Anehnya, aku tidak asing dengan suara itu. Aku kenal suara itu. Kenal sekali karena dulu waktu aku kecil suara itu sering memberikan aku nasihat-nasihat bijak jika aku kabur dari rumah lantaran marah atau kecewa dengan orangtuaku.

“akhirnya sampai disini juga kamu le”…suara itu pelan masuk ke telingaku. Segera aku membalikkan badan. Aku sangat terkejut dan jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat sosok yang memanggilku. Itu adalah suara nenekku. Simbah Sih Pangestu namanya. Dia sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Disampingnya, aku melihat kakekku yang juga sudah meninggal, memegang tangan nenekku erat sambil tersenyum padaku. Wajah mereka putih bersinar. Senyum itu manis dan suci tanpa beban.

Disaat itulah, aku baru menyadari bahwa sebenarnya kini aku tidak hidup lagi. Aku telah meninggal. Sayap-sayap yang tumbuh dari punggungku, adalah sebuah transformasiku dari dunia fisik kedunia roh. Aku meninggal karena gagal jantung yang disebabkan oleh kopi. Itulah kenapa disaat aku berjalan keluar kamar dan belajar untuk terbang, saudara kembarku dan teman-temanku tetap didalam kamar. Mereka terkejut dan takut bukan karena melihat sayap-sayapku, melainkan melihat bahwa jantungku sudah tak berdetak lagi dan nafasku terhenti. Kakek dan nenekku tlah menjemputku di taman terindah, yakni surga. Sejak saat itu, aku hidup dalam kebahagiaan dalam makna sebenarnya. Tulus dan tak menyakiti. Senyum seperti bayi, suci tanpa makna lain selain untuk bahagia.-The End

Catatan: cerita ini hanya fiktif dan rekayasa saja, jika ada kesamaan tokoh, lokasi dan peristiwa, itu diluar kesengajaan saja.

Penulis

Mr.sedenk

Laskar Pelangi Bagiku

 

Fiuh.. kuletakkan buku berwarna merah itu, bergambar sirluet anak-anak kecil yang bermain di tepi pantai. Buku Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata telah selesai kubaca. Berbagai gambaran muncul dalam kepalaku, berbagai penyadaranku pun mengikutinya di antara rasa bersalahku yang seakan semakin berbentuk seiring jalannya cerita.

 

Ketika aku masih kecil, pernah ditanya oleh guruku “ cita-citamu kalo besar mau jadi apa?”…aku bingung dengan jawaban yang harus kuberikan. Karena waktu itu, bagiku cita-cita adalah sesuatu hal yang mewah, yang hanya akan bisa menjadi mimpi indah bagi anak-anak di desa kami. Karena kedua orang tuaku selalu mengatakan padaku kalau aku harus menjadi seorang Pastur maka kujawab saja demikian. Aku sendiri masih bingung dengan pentingnya sebuah cita-cita. Sayangnya, entah karena orang tuaku yang berlatarbelakang pendidikan kurang atau aku yang terlalu bodoh sehingga sampai SMP, aku masih belum mendapatkan pencerahan tentang hal itu. Kolot…memang mungkin itulah diriku saat itu. Menjalani bangku pendidikan karena kewajiban. Belum bisa mengerti banyak akan pentingnya belajar benar-benar untuk masa depan (cita-cita).

Andai saja, didesaku waktu itu ada seorang Lintang, mungkin aku bisa mempunyai cita-cita yang benar-benar adalah cita-citaku. Bukan sebuah usulan atau saran dari siapapun. Muncul karena keinginan dan hasratku untuk menggapai tujuan itu. Karena, aku termasuk orang yang harus melihat sesuatu hal dengan konkrit dulu baru aku bisa mempercayainya. Harus ada alasan kuat kenapa aku harus melakukan sesuatu hal. Apapun itu.

Wew..apapun bisa terjadi. Lintang yang seorang Enstein baru bagi orang belitong sekarang hanyalah seorang kuli keruk korban ketidakadilan hidup di Indonesia.

Aku membayangkan, jika saja pemerintah sedikit berpikir, untuk membuat sebuah laboratorium penelitian terbesar di Indonesia yang letaknya di Belitong dan Lintang sebagai kepala penelitinya, akan menjadi apa Negara kita. Mungkin bisa sekelas dengan Iran atau bahkan Jerman. Bangsa ini tidak akan tergantung dari siapapun dari sisi Ekonomi maupun Militer.  

 Anak-anak laskar pelangi, tlah memberikan aku inspirasi baru untuk menjalani hidup. Menyadarkan, bahwa selama ini aku belum menghasilkan apa-apa yang jika sekarang aku matipun, belum bisa meninggalkan sebuah cerita, barang se paragraph yang akan ditulis oleh generasiku nanti.

Buku ‘sang pemimpi’, lanjutan dari tetralogi ini, telah menungguku untuk kubaca. Seakan didalamnya, mereka telah mempersiapkan nasihat-nasihat yang lebih mendalam untukku. Kita lihat saja nanti, smoga “Semuanya  Akan Indah Pada Akhirnya”.

 

 

 

 

 

 

Laskar Pelangi Jeglek..suara standar motorku ku parkir di halaman Togamas. Dengan segera kubuka helem putihku dan bergegas masuk ke dalam toko buku yang terkenal dengan harganya yang miring dan lengkap. Semenjak masuk kedalam toko, mataku hanya tertuju pada sebuah kertas yang digantung bertuliskan “Laskar pelang, Buku terlaris dalam sejarah Sastra Indonesia”. Itulah yang sebenarnya dari kemarin membuat saya penasaran. Begitu santernya orang-orang membicarakan tentang buku itu.

Saya langsung menitipkan jaket dan masuk melalui pintu besi yang di set hanya bisa masuk satu orang itu. Tanpa menoleh kanan-kiri saya langsung mengambil satu dari sekian banyak tumpukan buku Laskar pelangi yang kebetulan diletakkan dekat pintu masuk. Terus terang yang pertama saya lihat adalah dibagian belakang sampul halaman tepatnya dibawah barcode dimana ada harga untuk buku tersebut. Rp 48.000, hm…murah juga. Saya bawa buku itu dan menghampiri temen saya Blankblonthenk yang kebetulan juga sedang beli buku disitu. Setelah membayarnya kami naik ke Djendelo Cafe yg terletak di lantai 2 toko tersebut. Saya mulai membaca buku itu, halaman perhalaman, Bab per Bab…semakin saya balik halaman, semakin penasaran. wah…saat ini saya masih belum selesai membaca buku itu. Nanti, kalo sudah selesai..aku share deh isinya..hehe…[bersambung]

Memandang surgaMinggu pagi ini, aku hanya ingin menulis sedikit tentang arti ‘mengalah’ buat aku sendiri. Hm… dia tidak akan pernah mengerti, sejauh mana aku sudah berusaha untuk mengerti. Dia juga ga akan ngerti, sejauh mana pula aku mengalah buat dia.

Berusaha untuk menerima apapun yang terjadi dan tanpa ingin menyakiti. Bukan berkecil hati, tapi lebih pada penyadaran diri bahwa apapun bisa terjadi. Biarlah yang lalu, biar berlalu. Masa lalu ga akan pernah menjadi masa depan. Hanya akan menjadi memory yang menempati salah satu sudut otakku. Cukup sebagai penghias saja.

 Mudah-mudahan, kelak aku benar bisa menemukan arti hidup sebenarnya. Sekedar untuk bisa menikmati, hangat dari sinar mentari dan sejuk dari hembusnya angin sungguh dengan kesederhanaan sejati. Smoga….. 

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »