Kerasnya bunyi air mengisi bak kamar mandi dan falsnya teman kosku bernyanyi..membangunkanku dari peraduan tidurku pagi ini. Kubuka pintu kamar dan menuju ke dapur untuk memasak air. Kucuci gelas bekas kopi semalam yang masih tersisa cete sedikit dan kuracik kopi lampung tjap bintang kiriman ibuku kemarin. Air dalam heater itu telah menari2, melonjak-lonjak kegirangan untuk menandakan dia sudah mendidih meminta untuk segera dipertemukan dengan sang bubuk kopi serta ratusan butir gula. Kuseduh dan kuaduk kopi itu sebanyak 18 kali agar rasanya nikmat. Sedikit demi sedikit air yang sudah berwarna hitam pekat itu aku minum sampai habis hampir setengah gelas.
Mendadak, jantungku berdetak kencang sekali…nafasku terengah-engah. Tanganku bergetar kencang, melebihi vibrasi pada handphone. Mencoba untuk bangkit dari tempat duduk, aku malah tersungkur di atas amplifier sebagai pengatur bunyi lagu dari winamp yang kebetulan terletak di meja samping komputer. Saudara kembarku, yang kebetulan sedang tidur tersentak kaget melihatku berjimpangan lemah tanpa daya itu. Dia memanggil teman-teman kos yang sudah bangun. Aku dibaringkan di atas kasur dan bagai seorang wartawan KR, dia selalu menanyaiku “kamu knapa? Gimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?”. Terus berulang-ulang pertanyaan itu walaupun belum sempat aku menjawab lantaran aku sendiri tidak tau, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kurusku ini. Dikeadaan panik seperti itu, tiba-tiba aku merasakan dua buah benjolan besar muncul dari punggungku. Tepat di bawah bahu-diujung tulang lenganku. Dua benjolan, yah dua buah. Masing-masing sebelah kanan dan kiri punggungku. Benjolan itu kurasakan semakin besar dan bahkan sampai merobek kaos hitam bertuliskan Detik Forum karena kebetulan semalam ada rapat Baksos Komunitas DetikForum dan belum sempat kulepas kaos itu sampai pagi.
Saudara kembar dan beberapa temanku semakin panik. Mereka berhamburan keluar, lari kesana kemari , menelpon orangtuaku di Lampung dan beberapa kenalan yang mempunyai mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Situasi semakin gaduh disaat benjolan itu semakin besar, dan aku semakin menggeliat menahan sakit, berteriak keras sampai serak. Seakan pita suaraku pun sudah mengundurkan diri dari tugasnya karena terus-terusan dipaksa bekerja rodi untuk berteriak. Detak jantungku selaksa metronome dengan tempo 120. Berdetak seperti permainan double pedal dari lagu Evil milik Heavenly di album Dust to Dust. kegaduhan itu pada akhirnya terhenti karena dari punggungku terdengar bunyi yang asing bagi telinga kami. Inilah puncak dari apa yang sebenarnya telah menimpaku. Yang tlah membuat teman-teman kos harus bangun 5 menit lebih cepat dari hari biasanya. yang membuat suara fals temanku yang mandi harus di hentikan secara paksa. Dan yang telah membuat kedua orang tuaku memutuskan untuk segera menuju Jogja, tempat aku menjalani hidup sekarang ini sebagai perantau.
“Breeeee………p”. suara itu hanya terdengar sekali, namun pasti. Teman-temanku hanya menatap takjub sekaligus takut dengan benda yang muncul dari punggungku. Dua buah sayap besar, berwarna putih bersih. Beberapa bulu kecil yang rontok dari sayap itu beterbangan didalam ruang kamarku. Sayap-sayap itu lebih mirip dengan sayap burung bangau. Dari pangkal sayap sampai ke lekukan tingginya hampir sama dengan kepalaku. Panjang sayap dari lekukan ke ujung bawah hampir menyentuh tanah. Semakin keujung, semakin besar bentuk bulunya namun semakin sedikit jumlahnya.
Nafasku masih terengah-engah namun pikiranku yang tadinya kalut tidak karuan mendadak tenang. Seperti ada angin sejuk berhembus di wajahku. Angin sejuk yang belum pernah aku rasakan, telah menamparku dan memberikan efek luar biasa. Fisikku yang tadinya lemah menjadi kuat. Seperti tidak terjadi apa-apa. Detak jantungkupun perlahan berdegup tenang. Aku berdiri memandang mereka. Aku tau bahwa ada sayap di punggungku. Anehnya, aku tidak kaget ataupun takut sama sekali. Bahkan aku bisa merasakan bahwa kini aku mempunyai empat tangan. Dua adalah tangan lamaku, dan yang dua adalah sayap-sayap baruku. Aku berjalan keluar kamar sambil tak henti-hentinya memandang mereka. Sesampainya di pelataran depan kamar, mendadak aku melihat sebuah cahaya putih..namun tak menyilaukan dari atas sana. Dari tempat sang mendung tinggal dan sang hujan dilahirkan. Dari balik awan-awan, terus-menerus sinar itu menerangiku. Seperti lampu Follow yang ada di Socitet Militer untuk menegaskan fokus panggung dalam sebuah pertunjukan.
Kucoba kepakkan kedua sayapku. Semakin kuat dan sering aku mengepakkannya, semakin kulihat kedua kakiku terangkat dari bumi. Dan semakin tinggi aku terbang hingga bisa melihat bentuk kosku dari sudut yang belum pernah aku lihat. Aku berteriak kencang dan senang lantaran mukjijat pagi ini. Ingin rasanya aku berkeliling, terbang kemanapun aku bisa. Belum sempat terbesit keinginan-keinginan itu, aku memandang dari arah sinar yang menerangiku. Hm… “apa ya yang ada diujung sana?” gumanku. Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, aku kepakkan sayap-sayap baruku menuju ke arah sinar putih itu berasal. Tinggi dan semakin jauh aku meninggalkan bumi. Setelah hampir 25menit aku melihat keganjilan di ujung sinar itu. Samara-samar aku seperti melihat sebuah taman berumput hijau, bertaburkan berbagai macam bunga. Segera aku mendaratkan kakiku di sana. Tempat itu indah sekali. Hanya bunga, kupu-kupu, aneka jenis tanaman taman ada disana sejauh mataku memandang. Belum selesai aku mengagumi tempat itu, dari belakang aku dikagetkan oleh suara pelan. Suara itu agak kecil melengking seperti suara nenek-nenek umur 68 tahun. Anehnya, aku tidak asing dengan suara itu. Aku kenal suara itu. Kenal sekali karena dulu waktu aku kecil suara itu sering memberikan aku nasihat-nasihat bijak jika aku kabur dari rumah lantaran marah atau kecewa dengan orangtuaku.
“akhirnya sampai disini juga kamu le”…suara itu pelan masuk ke telingaku. Segera aku membalikkan badan. Aku sangat terkejut dan jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat sosok yang memanggilku. Itu adalah suara nenekku. Simbah Sih Pangestu namanya. Dia sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Disampingnya, aku melihat kakekku yang juga sudah meninggal, memegang tangan nenekku erat sambil tersenyum padaku. Wajah mereka putih bersinar. Senyum itu manis dan suci tanpa beban.
Disaat itulah, aku baru menyadari bahwa sebenarnya kini aku tidak hidup lagi. Aku telah meninggal. Sayap-sayap yang tumbuh dari punggungku, adalah sebuah transformasiku dari dunia fisik kedunia roh. Aku meninggal karena gagal jantung yang disebabkan oleh kopi. Itulah kenapa disaat aku berjalan keluar kamar dan belajar untuk terbang, saudara kembarku dan teman-temanku tetap didalam kamar. Mereka terkejut dan takut bukan karena melihat sayap-sayapku, melainkan melihat bahwa jantungku sudah tak berdetak lagi dan nafasku terhenti. Kakek dan nenekku tlah menjemputku di taman terindah, yakni surga. Sejak saat itu, aku hidup dalam kebahagiaan dalam makna sebenarnya. Tulus dan tak menyakiti. Senyum seperti bayi, suci tanpa makna lain selain untuk bahagia.-The End
Catatan: cerita ini hanya fiktif dan rekayasa saja, jika ada kesamaan tokoh, lokasi dan peristiwa, itu diluar kesengajaan saja.
Penulis
Mr.sedenk