Feed on
Tulisan
Komentar

 

 Buku ini telah membuatku merasa terbang jauh meninggalkan kota Jogja menuju Belitong tuk sekedar menyaksikan 3 anak muda bernama Ikal, Jimbron dan Arai. Di tepi pantai dekat dermaga ada  sebuah los kontrakan yang mereka sewa. Dari sana, aku duduk menyaksikan perjuangan anak-anak melayu yang amis oleh bau ikan dan kumuh itu bekerja menjadi kuli angkut. Perjuangan demi mimpi-mimpi mereka membuatku berdiri dan memberikan tepuk tangan yang bersemangat sebagai bentuk kekagumanku. “kita tak’kan pernah mendahului nasib!” teriak ikal. Aku setuju dengan kata-kata itu. Mereka bertiga telah mengalahkan keputusasaan dan ketakberdayaan dengan perjuangan yang gigih akan cita-cita mereka.

Aku mencoba melihat dalam diri sendiri dan aku semakin mengerti akan sesuatu. Apa yang lebih berharga dari yang kita punya sekarang ini? atau yang telah kita peroleh sebagai hasil jerih payah sendiri? Melebihi dari emas dialmari toko Semar atau berlian yang sering dikenakan oleh kebanyakan wanita kaya yang hanya untuk menunjukkan status kelas mereka.  Hm… Dialah Mimpi(Cita-cita). Sebagai oasis energi, untuk memompa semangat kita, hingga karenanya kita bisa bangkit dari rasa pesimis, segera menggebrak meja dengan kepalan optimisme seraya berkata “Aku bisa! Tunggulah kau disana! Sebab, darah ini sudah melonjak girang menyambut kehadiranku kembali.”. Dengan bermimpi, kita telah mempercayakan masa depan kita oleh konduktor paling jenius yang memimpin seluruh urat syaraf kita untuk memainkan lagu dalam sebuah orkestra kehidupan, Yah, mimpi itu yang sepantasnya menempati singgasana penghargaan, dari perjalanan dan perjuangan hidup setiap orang. Mimpi akan Cita-cita, memberikan kita benang merah inti hidup dalam bingkai ukir jepara nan indah.

Yang terpenting bukanlah apa yang kita punya saat ini, melainkan apa yang akan kita rencanakan dikemudian hari. Seberapa besar semangat kita untuk melangkah lebih jauh meninggalkan sampah-sampah pesimisme limbah dari pabrik kekecewaan kita terhadap hasil buruk.

Buku Edensor masih belum sempet aku beli. Tanggal 19apr besok, Andrea Hirata hadir di MTpoint jakal km.6 lho. Buat temen-temen yang mau minta urek-urek di bukunya, dateng aja yah. Acarane jam 19.00-selesai. Nek mau mangkat bareng aku, tak tunggu didepan Turindo ya jam 18.30 –an. hehehee

              

 

 

Andai Sayapku Bisa Berkembang...Kerasnya bunyi air mengisi bak kamar mandi dan falsnya teman kosku bernyanyi..membangunkanku dari peraduan tidurku pagi ini. Kubuka pintu kamar dan menuju ke dapur untuk memasak air. Kucuci gelas bekas kopi semalam yang masih tersisa cete sedikit dan kuracik kopi lampung tjap bintang kiriman ibuku kemarin. Air dalam heater itu telah menari2, melonjak-lonjak kegirangan untuk menandakan dia sudah mendidih meminta untuk segera dipertemukan dengan sang bubuk kopi serta ratusan butir gula. Kuseduh dan kuaduk kopi itu sebanyak 18 kali agar rasanya nikmat. Sedikit demi sedikit air yang sudah berwarna hitam pekat itu aku minum sampai habis hampir setengah gelas.

Mendadak, jantungku berdetak kencang sekali…nafasku terengah-engah. Tanganku bergetar kencang, melebihi vibrasi pada handphone. Mencoba untuk bangkit dari tempat duduk, aku malah tersungkur di atas amplifier sebagai pengatur bunyi lagu dari winamp yang kebetulan terletak di meja samping komputer. Saudara kembarku, yang kebetulan sedang tidur tersentak kaget melihatku berjimpangan lemah tanpa daya itu. Dia memanggil teman-teman kos yang sudah bangun. Aku dibaringkan di atas kasur dan bagai seorang wartawan KR, dia selalu menanyaiku “kamu knapa? Gimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?”. Terus berulang-ulang pertanyaan itu walaupun belum sempat aku menjawab lantaran aku sendiri tidak tau, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kurusku ini. Dikeadaan panik seperti itu, tiba-tiba aku merasakan dua buah benjolan besar muncul dari punggungku. Tepat di bawah bahu-diujung tulang lenganku. Dua benjolan, yah dua buah. Masing-masing sebelah kanan dan kiri punggungku. Benjolan itu kurasakan semakin besar dan bahkan sampai merobek kaos hitam bertuliskan Detik Forum karena kebetulan semalam ada rapat Baksos Komunitas DetikForum dan belum sempat kulepas kaos itu sampai pagi.

Saudara kembar dan beberapa temanku semakin panik. Mereka berhamburan keluar, lari kesana kemari , menelpon orangtuaku di Lampung dan beberapa kenalan yang mempunyai mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Situasi semakin gaduh disaat benjolan itu semakin besar, dan aku semakin menggeliat menahan sakit, berteriak keras sampai serak. Seakan pita suaraku pun sudah mengundurkan diri dari tugasnya karena terus-terusan dipaksa bekerja rodi untuk berteriak. Detak jantungku selaksa metronome dengan tempo 120. Berdetak seperti permainan double pedal dari lagu Evil milik Heavenly di album Dust to Dust. kegaduhan itu pada akhirnya terhenti karena dari punggungku terdengar bunyi yang asing bagi telinga kami. Inilah puncak dari apa yang sebenarnya telah menimpaku. Yang tlah membuat teman-teman kos harus bangun 5 menit lebih cepat dari hari biasanya. yang membuat suara fals temanku yang mandi harus di hentikan secara paksa. Dan yang telah membuat kedua orang tuaku memutuskan untuk segera menuju Jogja, tempat aku menjalani hidup sekarang ini sebagai perantau.

“Breeeee………p”. suara itu hanya terdengar sekali, namun pasti. Teman-temanku hanya menatap takjub sekaligus takut dengan benda yang muncul dari punggungku. Dua buah sayap besar, berwarna putih bersih. Beberapa bulu kecil yang rontok dari sayap itu beterbangan didalam ruang kamarku. Sayap-sayap itu lebih mirip dengan sayap burung bangau. Dari pangkal sayap sampai ke lekukan tingginya hampir sama dengan kepalaku. Panjang sayap dari lekukan ke ujung bawah hampir menyentuh tanah. Semakin keujung, semakin besar bentuk bulunya namun semakin sedikit jumlahnya.

Nafasku masih terengah-engah namun pikiranku yang tadinya kalut tidak karuan mendadak tenang. Seperti ada angin sejuk berhembus di wajahku. Angin sejuk yang belum pernah aku rasakan, telah menamparku dan memberikan efek luar biasa. Fisikku yang tadinya lemah menjadi kuat. Seperti tidak terjadi apa-apa. Detak jantungkupun perlahan berdegup tenang. Aku berdiri memandang mereka. Aku tau bahwa ada sayap di punggungku. Anehnya, aku tidak kaget ataupun takut sama sekali. Bahkan aku bisa merasakan bahwa kini aku mempunyai empat tangan. Dua adalah tangan lamaku, dan yang dua adalah sayap-sayap baruku. Aku berjalan keluar kamar sambil tak henti-hentinya memandang mereka. Sesampainya di pelataran depan kamar, mendadak aku melihat sebuah cahaya putih..namun tak menyilaukan dari atas sana. Dari tempat sang mendung tinggal dan sang hujan dilahirkan. Dari balik awan-awan, terus-menerus sinar itu menerangiku. Seperti lampu Follow yang ada di Socitet Militer untuk menegaskan fokus panggung dalam sebuah pertunjukan.

Kucoba kepakkan kedua sayapku. Semakin kuat dan sering aku mengepakkannya, semakin kulihat kedua kakiku terangkat dari bumi. Dan semakin tinggi aku terbang hingga bisa melihat bentuk kosku dari sudut yang belum pernah aku lihat. Aku berteriak kencang dan senang lantaran mukjijat pagi ini. Ingin rasanya aku berkeliling, terbang kemanapun aku bisa. Belum sempat terbesit keinginan-keinginan itu, aku memandang dari arah sinar yang menerangiku. Hm… “apa ya yang ada diujung sana?” gumanku. Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, aku kepakkan sayap-sayap baruku menuju ke arah sinar putih itu berasal. Tinggi dan semakin jauh aku meninggalkan bumi. Setelah hampir 25menit aku melihat keganjilan di ujung sinar itu. Samara-samar aku seperti melihat sebuah taman berumput hijau, bertaburkan berbagai macam bunga. Segera aku mendaratkan kakiku di sana. Tempat itu indah sekali. Hanya bunga, kupu-kupu, aneka jenis tanaman taman ada disana sejauh mataku memandang. Belum selesai aku mengagumi tempat itu, dari belakang aku dikagetkan oleh suara pelan. Suara itu agak kecil melengking seperti suara nenek-nenek umur 68 tahun. Anehnya, aku tidak asing dengan suara itu. Aku kenal suara itu. Kenal sekali karena dulu waktu aku kecil suara itu sering memberikan aku nasihat-nasihat bijak jika aku kabur dari rumah lantaran marah atau kecewa dengan orangtuaku.

“akhirnya sampai disini juga kamu le”…suara itu pelan masuk ke telingaku. Segera aku membalikkan badan. Aku sangat terkejut dan jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat sosok yang memanggilku. Itu adalah suara nenekku. Simbah Sih Pangestu namanya. Dia sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Disampingnya, aku melihat kakekku yang juga sudah meninggal, memegang tangan nenekku erat sambil tersenyum padaku. Wajah mereka putih bersinar. Senyum itu manis dan suci tanpa beban.

Disaat itulah, aku baru menyadari bahwa sebenarnya kini aku tidak hidup lagi. Aku telah meninggal. Sayap-sayap yang tumbuh dari punggungku, adalah sebuah transformasiku dari dunia fisik kedunia roh. Aku meninggal karena gagal jantung yang disebabkan oleh kopi. Itulah kenapa disaat aku berjalan keluar kamar dan belajar untuk terbang, saudara kembarku dan teman-temanku tetap didalam kamar. Mereka terkejut dan takut bukan karena melihat sayap-sayapku, melainkan melihat bahwa jantungku sudah tak berdetak lagi dan nafasku terhenti. Kakek dan nenekku tlah menjemputku di taman terindah, yakni surga. Sejak saat itu, aku hidup dalam kebahagiaan dalam makna sebenarnya. Tulus dan tak menyakiti. Senyum seperti bayi, suci tanpa makna lain selain untuk bahagia.-The End

Catatan: cerita ini hanya fiktif dan rekayasa saja, jika ada kesamaan tokoh, lokasi dan peristiwa, itu diluar kesengajaan saja.

Penulis

Mr.sedenk

Laskar Pelangi Bagiku

 

Fiuh.. kuletakkan buku berwarna merah itu, bergambar sirluet anak-anak kecil yang bermain di tepi pantai. Buku Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata telah selesai kubaca. Berbagai gambaran muncul dalam kepalaku, berbagai penyadaranku pun mengikutinya di antara rasa bersalahku yang seakan semakin berbentuk seiring jalannya cerita.

 

Ketika aku masih kecil, pernah ditanya oleh guruku “ cita-citamu kalo besar mau jadi apa?”…aku bingung dengan jawaban yang harus kuberikan. Karena waktu itu, bagiku cita-cita adalah sesuatu hal yang mewah, yang hanya akan bisa menjadi mimpi indah bagi anak-anak di desa kami. Karena kedua orang tuaku selalu mengatakan padaku kalau aku harus menjadi seorang Pastur maka kujawab saja demikian. Aku sendiri masih bingung dengan pentingnya sebuah cita-cita. Sayangnya, entah karena orang tuaku yang berlatarbelakang pendidikan kurang atau aku yang terlalu bodoh sehingga sampai SMP, aku masih belum mendapatkan pencerahan tentang hal itu. Kolot…memang mungkin itulah diriku saat itu. Menjalani bangku pendidikan karena kewajiban. Belum bisa mengerti banyak akan pentingnya belajar benar-benar untuk masa depan (cita-cita).

Andai saja, didesaku waktu itu ada seorang Lintang, mungkin aku bisa mempunyai cita-cita yang benar-benar adalah cita-citaku. Bukan sebuah usulan atau saran dari siapapun. Muncul karena keinginan dan hasratku untuk menggapai tujuan itu. Karena, aku termasuk orang yang harus melihat sesuatu hal dengan konkrit dulu baru aku bisa mempercayainya. Harus ada alasan kuat kenapa aku harus melakukan sesuatu hal. Apapun itu.

Wew..apapun bisa terjadi. Lintang yang seorang Enstein baru bagi orang belitong sekarang hanyalah seorang kuli keruk korban ketidakadilan hidup di Indonesia.

Aku membayangkan, jika saja pemerintah sedikit berpikir, untuk membuat sebuah laboratorium penelitian terbesar di Indonesia yang letaknya di Belitong dan Lintang sebagai kepala penelitinya, akan menjadi apa Negara kita. Mungkin bisa sekelas dengan Iran atau bahkan Jerman. Bangsa ini tidak akan tergantung dari siapapun dari sisi Ekonomi maupun Militer.  

 Anak-anak laskar pelangi, tlah memberikan aku inspirasi baru untuk menjalani hidup. Menyadarkan, bahwa selama ini aku belum menghasilkan apa-apa yang jika sekarang aku matipun, belum bisa meninggalkan sebuah cerita, barang se paragraph yang akan ditulis oleh generasiku nanti.

Buku ‘sang pemimpi’, lanjutan dari tetralogi ini, telah menungguku untuk kubaca. Seakan didalamnya, mereka telah mempersiapkan nasihat-nasihat yang lebih mendalam untukku. Kita lihat saja nanti, smoga “Semuanya  Akan Indah Pada Akhirnya”.

 

 

 

 

 

 

Laskar Pelangi Jeglek..suara standar motorku ku parkir di halaman Togamas. Dengan segera kubuka helem putihku dan bergegas masuk ke dalam toko buku yang terkenal dengan harganya yang miring dan lengkap. Semenjak masuk kedalam toko, mataku hanya tertuju pada sebuah kertas yang digantung bertuliskan “Laskar pelang, Buku terlaris dalam sejarah Sastra Indonesia”. Itulah yang sebenarnya dari kemarin membuat saya penasaran. Begitu santernya orang-orang membicarakan tentang buku itu.

Saya langsung menitipkan jaket dan masuk melalui pintu besi yang di set hanya bisa masuk satu orang itu. Tanpa menoleh kanan-kiri saya langsung mengambil satu dari sekian banyak tumpukan buku Laskar pelangi yang kebetulan diletakkan dekat pintu masuk. Terus terang yang pertama saya lihat adalah dibagian belakang sampul halaman tepatnya dibawah barcode dimana ada harga untuk buku tersebut. Rp 48.000, hm…murah juga. Saya bawa buku itu dan menghampiri temen saya Blankblonthenk yang kebetulan juga sedang beli buku disitu. Setelah membayarnya kami naik ke Djendelo Cafe yg terletak di lantai 2 toko tersebut. Saya mulai membaca buku itu, halaman perhalaman, Bab per Bab…semakin saya balik halaman, semakin penasaran. wah…saat ini saya masih belum selesai membaca buku itu. Nanti, kalo sudah selesai..aku share deh isinya..hehe…[bersambung]

Memandang surgaMinggu pagi ini, aku hanya ingin menulis sedikit tentang arti ‘mengalah’ buat aku sendiri. Hm… dia tidak akan pernah mengerti, sejauh mana aku sudah berusaha untuk mengerti. Dia juga ga akan ngerti, sejauh mana pula aku mengalah buat dia.

Berusaha untuk menerima apapun yang terjadi dan tanpa ingin menyakiti. Bukan berkecil hati, tapi lebih pada penyadaran diri bahwa apapun bisa terjadi. Biarlah yang lalu, biar berlalu. Masa lalu ga akan pernah menjadi masa depan. Hanya akan menjadi memory yang menempati salah satu sudut otakku. Cukup sebagai penghias saja.

 Mudah-mudahan, kelak aku benar bisa menemukan arti hidup sebenarnya. Sekedar untuk bisa menikmati, hangat dari sinar mentari dan sejuk dari hembusnya angin sungguh dengan kesederhanaan sejati. Smoga….. 

Sugeng Rawuh…

sedenginSugeng Rawuh…

Salam kenal kagem sederek- sederek yang menyempatkan mampir di bloggku. Awal ketertarikanku untuk membuat blog adalah saat seorang penulis terkenal, pak Yahya Kurniawan memberikan pencerahan di sebuah acara Gathering yang diadakan oleh DetikForum Regional jogja di candi boko. Mulai dari sana, saya mulai tertarik. Sepertinya membuat blog dengan WordPress terlihat mudah. Dan lagi, di blog kita bisa ngeluarin uneg2 yang bisa dishare buat siapa aja.

Ketertarikan saya semakin menggebu, disaat pak Yahya Kurniawan memberikan Doorprize 2 buah buku dan kebetulan aku yang dapet buku itu. Hm…. lembar perlembar buku itu aku baca. Semakin habis halamannya, semakin aku terbawa langkahku untuk segera menuju warnet terdekat dan segera membuka adress www.wordpress.com. Dari situlah pelan-pelan aku membangun blogku.

Terimakasih buat Pak Yahya Kurniawan atas Pencerahannya. Berhubung saya ini masih junior banget sebagai seorang bloger, jadi aku masih mengharapkan petunjuk dari siapapun dalam beraktifitas di blog..

« Newer Posts