Minke, satu dari anak bangsa. Selalu mengagungkan eropa, sebagai yang terdidik dan peradabannya membuai. Bahkan dalam semua tulisannya berbahasa belanda. Hingga suatu saat, keadaan berubah. Eropa telah mengambil nyawa istrinya, dibuang dari tanah jawa menuju Nederland, dibunuh secara perlahan. Hal itu membuka matanya dengan paksa. Mencoba mengenal bangsanya sendiri dengan menulis melayu, dia mendatangi satu dari sekian banyak petani yang tanahnya raib ditelan kebun tebu. Trunodongso dan keluarga, mati-matian mempertahankan tanah mereka. Minke berjanji, akan membantu menyiarkan aspirasi mereka melalui tulisan melayunya ke muka umum. Walau pada akhirnya usahanya gagal.
Nyi Ontosoroh, tak kuasa menerima nyata. Tanah dan usaha selama ini dibangun adalah hasil dari ketidak adilan mantan suaminya Herman Mellema yang dengan kuasa eropa, tega mengambil paksa dari pada petani. Bisa jadi, satu atau dua jengkal tanah itu, adalah milik trunodongso. Atau paling tidak terdapat ratap tangis disana. Trunodongso bersama keluarga diajaknya tinggal diwonokromo, rumah Nyi Ontosoroh, tempat dari hasil rampasan Mantan Suaminya.
Ir Maurits mellema, satu-satunya putra Herman Mellema dari istri pertama datang menemui keluarga Wonokromo itu. Hendak mengambil hak waris atas ayahnya yang telah meninggal. Nyi ontosoroh tak bisa berbuat banyak, dan bersiap kapan saja bila putra Nederland itu hendak menendangnya.
Bagaimana kisah berikutnya…aku belum tahu. Buku Jejak langkah, telah berada dalam angan kepala.
Bersambung….
mas.. kamu di mana e??
wlan