Senin 14Apr08, perasaan gundah memayungiku semenjak jam 4 sore. Berkali-kali aku SMS ke saudaraku yang dirumah. Hanya untuk menanyakan “Apakah sudah datang?” …dan pertanyaan dengan 3 suku kata itu hanya dibalas “belum”. Semakin sering jawaban itu seiring SMSku kesana semakin pikiranku menjadi tidak tenang. Menurut kabar yang aku dengar seharusnya Josephin sudah sampai di rumahku jam 4. kalaupun lebih, tidak akan sampai lebih dari jam 5. Jam 6 dan Jam 7 sudah resmi aku lewati dan masih belum ada kabar juga. Aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Hingga pada akhirnya, jam 7.30 malam, mendadak saudaraku kirim SMS yang isinya mengatakan bahwa Josephin sudah sampai di rumah dengan Selamat. Senang sekali rasanya aku mendengar kabar itu. Sayang, aku baru bisa pulang setelah jam 10 malam. Padahal rasa sudah ingin bertemu dengannya semakin bergejolak.
Sesampainya di rumah, langsung aku bergegas menemui Josephin. Dia sudah tidur di kamar yang kebetulan sudah tidak berpenghuni. Ku buka pintu kamar itu pelan. Senyum dan rasa senang seakan telah spakat untuk hadir dalam diriku. Terlihat disana, Josephin dengan keanggunan dan semangatnya, telah menungguku untuk berpetualang mengelilingi jagat ini. Ku sentuh tubuh mulusnya itu dari ujung ke ujung. Menyenangkan sekali bisa dipertemukan dengannya.
Honda New MegaPro, buatan dan rakitan tahun 2008, dengan kapasitas silinder 160, berwarna hitam-List silver itulah yang ku sebut-sebut sebagai Josephin. Sebuah motor dengan kecepatan maksimal mencapai 180 km/jam dan kapasitas tangki bahan bakar 12,5 liter sangat cocok sekali dengan hobi petualanganku. Motor ini adalah impianku sejak dulu. Ku beli dari hasil tabunganku sebagai buruh tiket yang selalu menjadi korban Void dan Komplain.
Nama Josephin aku berikan padanya karena didalam hidupku, pernah ada seseorang wanita dengan nama itu yang sempat singgah untuk sementara waktu dalam rasaku. Selama persinggahannya, dia telah banyak berperan dalam masa pendewasaanku. Menyadarkan dan membuatku lebih menghargai hidup serta tujuannya.
Buat Josephin, terimakasih banyak atas bantuanmu dulu. Walaupun sekarang aku tidak tahu kamu dimana, namun aku selalu berdoa untukmu. Smoga Tuhan selalu mendampingi langkahmu dalam hidup dan karya. Maaf kalau waktu gempa 2006 kemarin, aku nggak membantumu, padahal rumahmu ikut rata dengan tanah. Salam untuk kedua orang tuamu yah. bye…
Catatan: cerita ini hanya mendramatisir dari kenyataan, jika ada kesamaan cerita dan tokoh semuanya bukan kebetulan saja.
hu…. ku kira sapa…
ternyata… motor baru…
dah pernah jatuh belum..heheheh ntar ga mulus lagi dah…
wew..selamat kang sedenk….
ngatos2 kemawon yen nitih mbak josephin nggih,,e he he