Pagi itu, 07Dec08. gerimis memaksaku memakai jas hujan dalam perjalan menuju Ambarukmo plasa. Dimana, dalam sebuah rencana besar, aku akan menjumpai orang yang selama ini aku kagumi, Sandra Dewi. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan bagaimana nantinya jika aku benar-benar bertemu dia. Grogi juga resah, sampai berimbas pada perutku yang menjadi mules karena pikiran-pikiran itu. Tapi kapan lagi, saat inilah momen yang aku tunggu. Hari ini akan terjadi sebuah keajaiban dari kecantikan seorang anak manusia, seseorang yang bagai permaisuri, empunya segala dan penyemangat segala pikiranku. Hari ini pula aku akan mengenal dua hal baru, Sanders dan Sandra Dewi.
Aku tiba di parkiran Motor, dan bersamaku pula ada dua perempuan dengan seragam kompak, tak jauh dari tempatku memarkir. Mereka berdua masuk melalui pintu bawah beserta aku dibelakangnya. Aku penasaran, apakah mereka teman-teman dari Sanders? Ku coba lebih dekat jarak jalanku. Di bagian belakang dari seragam mereka, tidak ada bertuliskan Sandradewi atau Sanders atau apapun yang berhubungan dengan jogja. Salah satu dari mereka, yang pada akhirnya diketahui adalah Ocha, sempat merasa aneh dengan sikapku yang terkesan parno itu. Terbaca sedikit tulisan di lengan salah satu dari mereka, yaitu Vinta. 0o0oh..mungkin mereka adalah SPG dari sebuah produk, bernama Vinta. jadi kubatalkan niatku untuk bertanya pada mereka. Kesan pengintaianku pada merekapun berakhir saat mereka masuk ke toilet.
Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat, dimana teman-teman Sanders berkumpul. Ups, perasaanku kembali berombang. Bagaimana tidak, saat kulihat teman-teman Sanders sudah siap, berkumpul banyak disana dan berseragam kompak juga. Aku lewati mereka dulu, sementara mencoba sms Pak ketuanya, Vienan. Balasan sms darinya: “didepan starbuck”. Kuberanikan diri, meski penuh grogi sebagai orang baru ke sana untuk memulai kisah Sanders dan Sandra Dewi.
Begitu sudah sampai pada mereka, aku mulai memperkenalkan diri, yang pertama kali aku salami adalah bernama Wiko. Dan saat itulah kesan Sanders jogja mulai tergambar dipikiranku. Mulai menampakkan sisi dan sudutnya. Mulai memperjelas keabstrakan semula. Sapaan pak ketua, Vienan itu pula turut meyakinkannya. Bentuk itu adalah sebuah keramahan…kekeluargaan jogja. Sekali lagi jogja membuktikan citranya bahwa memang, JOGJA BERHATI NYAMAN. Berlanjut pada perkenalan dengan Acoi, Aichi, Dhito dan Soni serta beberapa teman yang lain. Memulai obrolan demi obrolan dalam satuan kosakata. Tak lama kemudian datanglah dua perempuan yang sejak tadi terkesan ku buntuti. Akhirnya kami berkenalan juga, namanya sudah kusebut diatas, Ocha dan Vinta (ternyata bukan nama produk, hehehe..).
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, kami diajak ke atas menuju bioskop 21 untuk nonton bareng film “Tarzan ke Kota” yang dibintangi oleh sang segala dipikiranku itu. Wew..senangnya… hehe… film yang kocak, abisss…ketawa-ketiwi aku dan teman Sanders dibuat. Film selesai dan kami mencoba mencari-cari. Apakah Sandra Dewi ikut menonton bareng atau tidak. Ternyata tidak dan kami mulai meninggalkan Bioskop. Langsung menuju ke kafe Taman Sari, tempat akan dilaksanakannya Promo film”Tarzan ke Kota”. Melanjutkan obrolan demi obrolan untuk mempererat persahabatan antar Sanders. Sembari menunggu jarum jam pada angka 1, kami juga mengisinya dengan jalan-jalan ke Carffour untuk melengkapi isi dalam lambung, makanan.
Waktu sudah menunjuk pukul satu, kami pun masuk ke bagian dalam Kafe tersebut. Vienan, pak ketua kita mengatakan bahwa Sandra Dewi sudah datang dan dia saat ini sedang membeli makanan di bagian ujung (Sambil tangannya menunjuk sebuah sudut ruangan kafe).
Terlihat padaku…seorang perempuan dengan menggunakan pakaian berwarna ungu…berambut panjang lurus dan indah.. tas berwarna merahpun menggantung manja pada lengannya. Tanpa sadar..aku mulai gelisah…kembali rasa grogi menguasai. Kali ini perasaan itu semakin menjadi dengan diiringi derap jantung yang semakin cepat. Suwer…aku deg-degan. Terus kulihat perempuan itu..namun belum juga memalingkan wajahnya. Kesabaranku makin terhimpit oleh rasa-rasa yang makin berkuasa. Ayolah..menengoklah barang seberapa…wahai kamu sang perempuan. Yakinkan aku kalo memang itu kamu… dan benar saja, dia menengok ke arah kami, Sandra Dewi. Perempuan Sang segala dalam pikiranku. Biang keladi dari inspirasiku. Dia, yang bila hanya melihat kecantikan matanya saja, cukup membuatku kenyang satu hari satu malam. Bagaikan mimpi di siang bolong. Fiuh..sungguh aku ga bisa bilang apa-apa. Terkunci mulut karna terus mengagumi.
Acara promo film berlanjut. Di sela-sela acara aku termangu menonton group band Jiung yang sedang menebar birama-birama musik dalam lagu. Musik dengan ciri khas yang tak asing ditelinga. Mereka menganut aliran seperti bang Benyamin, seorang tokoh betawi. Ternyata, enak juga musik itu didengar ya. Kepalaku mengangguk angguk dalam metronome teratur mereka. Hingga suatu saat, dimana kurasai ada tangan menepuk punggungku. Sontak aku kaget dibuatnya. Aku palingkan wajah ke belakang, belum sampai kulihat siapa dia, si Wiko bilang, “…Sandra dewi”. Yup, betul sekali. Kulihat perempuan itu. Dengan keramahannya, menyapa kami semua. Dengan senyum yang seperti tak habis terpancar dari bibirnya. Senyum terindah dari seorang putri, Sandra Dewi. Dia menghampiri rombongan Sanders dan menyapa satu persatu. Rasanya aku ga percaya apa yang kulihat itu. Bener-bener sempurna serta baik sekali orangnya. Beberapa percakapan yang aku inget adalah: “ada orang berapa yang ikut? Dah dari tadi? Kompak banget seragamnya…bla..bla..bla..”. hehehe.. Aku coba mendekat dan minta foto bareng dia. Dapet juga satu foto pertamaku yang cukup sempurna. 
Hingga akhinya percakapan harus berhenti karena dia akan menyanyikan lagu bareng Jiung. Lagu yang merupakan soundtrack dari Film “Tarzan Ke Kota”. Ternyata bagus juga suara Sandra Dewi, memang sih tidak sesempurna penyanyi-penyanyi ngetop. Tapi paling tidak, nada yang dia ambil tepat pada posisi-posisi sebenarnya, dengan kata lain ga fals. Jadi membuat semangatku kembali terpompa.
Acarapun selesai dan kami, Sanders telah sepakat akan makan gudeg bareng di bu Tjitro, lokasi dekat JEC. Sanders tiba duluan, sedangkan Sandra Dewi masih dalam penjemputan pak ketua Vienan. Seperti sebelumnya, kami mengisi waktu ‘menunggu’ itu dengan obrolan, percakapan hangat antar Sanders. Wew.. lumayan lama juga menunggu Sandra Dewi. Waktu sudah melompat satu jam dari rencana semula, jam 18.00.
Dari kejauhan terlihat pegawai parkir rumah makan, mengatur dan mempersiapkan lokasi untuk sebuah mobil yang baru masuk ke pelataran. Itulah mobil Vienan, tentunya juga ada Sandra Dewi didalamnya. Dia segera masuk dan mengucapkan maaf atas keterlambatan yang terjadi. Ah..menurutku kenapa harus minta maaf? Toh aku bisa melihat dan mengenal dia sebagai sahabat sudah cukup membutakanku dalam melihat perbedaan antara terlambat atau tidak. Hehe…(berlebihan yee…wekekkee). Satu persatu Sanders memberikan kado dan bingkisan untuk Sandra Dewi. Diantaranya Wiko dan Soni serta beberapa teman Sanders.
Acara malam itu berlanjut dengan obrolan yang bersifat Sersan (Serius tapi Santai). Kami membicarakan tentang Sanders kedepannya. Tentang rencana Gath Nasional yang akan dilaksanakan bulan Feb. itu baru rencana lho..belum pengumuman…hehehehe…. Sandra Dewi terlihat masih semangat, masih segar, seperti belum melakukan aktifitas sama sekali. Padahal, kita tau sendiri dari pagi hingga malam begini, aktifitasnya begitu padat merayap. Duh…sungguh menambah kekagumanku terhadapnya.
Waktu semakin tidak bersahabat, membisik kami untuk segera meninggalkan RM tersebut. Dalam rencana awal, kami akan berpindah lokasi untuk melanjutkan obrolan kami tadi. Lokasi barunya ada di Timoho, di sebuah angkringan yang cukup terkenal. Apa hendak dikata, angkringan yang kami tuju tutup.
Dan kami akhirnya pulang ke hotel Wisanti tempat Sandra Dewi menginap. Disana pulalah kami melanjutkan barang sebentar obrolan semula. Ditengah-tengah percakapan itu, Sandra Dewi menelpon neng Olip, karena beliau udah nraktir kami makan malam. Waw..baik banget ya neng Olip. Makasih ya dah nraktir…hehehehe…besok-besok gantian deh kalo neng Olip ma Sandra Dewi kejogja, kita yang traktir.(Setuju???….hehehe kalo setuju, lokasi Gath sudah bisa diputuskan kan?..hua..hua..hua..)
Cerita malam itupun berakhir. Satu persatu kami berpamitan dengan Sandra Dewi. Berat sih, tapi apa boleh buat. Biarlah dia istirahat. Sudah barang tentu lelah, dan gerah karena padatnya aktifitas. Sekali lagi, trimakasih ya buat Sandra Dewi. Kamu memang beda. Kamu memang luar biasa. Sungguh-sungguh pantas kusandangkan kau sebagai seorang perempuan yang empunya segala inspirasi di kepalaku. Bukanlah berlebihan, tapi kenyataan. Patut untuk dipuji, tidak pada kecantikan fisikmu saja tapi lebih pada inner beautymu, keramahanmu dan aroma persahabatanmu. Terimakasih Sanders, dan tetap Kompak ya… btw..aku masih belum punya seragam kompak nih…hiks….
Thanks
Mr.Sedenk