Feeds:
Tulisan
Komentar

Tour De Salatiga

Kemaren, kamis 12Feb 09. Aku melakukan perjalanan dari Jogja ke Salatiga naik motor sama temenku. wah..menyenangkan sekali bisa touring begini. secara aku dah jarang kemana2 nih.  Sesampainya disana aku disambut ramah oleh temen2ku. hm.. ni foto2nya….

Sampai di Boyolali

Sampai di Boyolali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sampai Di Gerbang Salatiga

Di Gerbang Salatiga

 

Foto Dengan Erna Salatiga

Foto Dengan Erna Salatiga

 

Pagi itu, 07Dec08. gerimis memaksaku memakai jas hujan dalam perjalan menuju Ambarukmo plasa. Dimana, dalam sebuah rencana besar, aku akan menjumpai orang yang selama ini aku kagumi, Sandra Dewi. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan bagaimana nantinya jika aku benar-benar bertemu dia. Grogi juga resah, sampai berimbas pada perutku yang menjadi mules karena pikiran-pikiran itu. Tapi kapan lagi, saat inilah momen yang aku tunggu. Hari ini akan terjadi sebuah keajaiban dari kecantikan seorang anak manusia, seseorang yang bagai permaisuri, empunya segala dan penyemangat segala pikiranku. Hari ini pula aku akan mengenal dua hal baru, Sanders dan Sandra Dewi.

Aku tiba di parkiran Motor, dan bersamaku pula ada dua perempuan dengan seragam kompak, tak jauh dari tempatku memarkir. Mereka berdua masuk melalui pintu bawah beserta aku dibelakangnya. Aku penasaran, apakah mereka teman-teman dari Sanders? Ku coba lebih dekat jarak jalanku. Di bagian belakang dari seragam mereka, tidak ada bertuliskan Sandradewi atau Sanders atau apapun yang berhubungan dengan jogja. Salah satu dari mereka, yang pada akhirnya diketahui adalah Ocha, sempat merasa aneh dengan sikapku yang terkesan parno itu. Terbaca sedikit tulisan di lengan salah satu dari mereka, yaitu Vinta. 0o0oh..mungkin mereka adalah SPG dari sebuah produk, bernama Vinta. jadi kubatalkan niatku untuk bertanya pada mereka. Kesan pengintaianku pada merekapun berakhir saat mereka masuk ke toilet.

Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat, dimana teman-teman Sanders berkumpul. Ups, perasaanku kembali berombang. Bagaimana tidak, saat kulihat teman-teman Sanders sudah siap, berkumpul banyak disana dan berseragam kompak juga. Aku lewati mereka dulu, sementara mencoba sms Pak ketuanya, Vienan. Balasan sms darinya: “didepan starbuck”. Kuberanikan diri, meski penuh grogi sebagai orang baru ke sana untuk memulai kisah Sanders dan Sandra Dewi.

Begitu sudah sampai pada mereka, aku mulai memperkenalkan diri, yang pertama kali aku salami adalah bernama Wiko. Dan saat itulah kesan Sanders jogja mulai tergambar dipikiranku. Mulai menampakkan sisi dan sudutnya. Mulai memperjelas keabstrakan semula. Sapaan pak ketua, Vienan itu pula turut meyakinkannya. Bentuk itu adalah sebuah keramahan…kekeluargaan jogja. Sekali lagi jogja membuktikan citranya bahwa memang, JOGJA BERHATI NYAMAN. Berlanjut pada perkenalan dengan Acoi, Aichi, Dhito dan Soni serta beberapa teman yang lain. Memulai obrolan demi obrolan dalam satuan kosakata. Tak lama kemudian datanglah dua perempuan yang sejak tadi terkesan ku buntuti. Akhirnya kami berkenalan juga, namanya sudah kusebut diatas, Ocha dan Vinta (ternyata bukan nama produk, hehehe..).

Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, kami diajak ke atas menuju bioskop 21 untuk nonton bareng film “Tarzan ke Kota” yang dibintangi oleh sang segala dipikiranku itu. Wew..senangnya… hehe… film yang kocak, abisss…ketawa-ketiwi aku dan teman Sanders dibuat. Film selesai dan kami mencoba mencari-cari. Apakah Sandra Dewi ikut menonton bareng atau tidak. Ternyata tidak dan kami mulai meninggalkan Bioskop. Langsung menuju ke kafe Taman Sari, tempat akan dilaksanakannya Promo film”Tarzan ke Kota”. Melanjutkan obrolan demi obrolan untuk mempererat persahabatan antar Sanders. Sembari menunggu jarum jam pada angka 1, kami juga mengisinya dengan jalan-jalan ke Carffour untuk melengkapi isi dalam lambung, makanan.

Waktu sudah menunjuk pukul satu, kami pun masuk ke bagian dalam Kafe tersebut. Vienan, pak ketua kita mengatakan bahwa Sandra Dewi sudah datang dan dia saat ini sedang membeli makanan di bagian ujung (Sambil tangannya menunjuk sebuah sudut ruangan kafe).

Terlihat padaku…seorang perempuan dengan menggunakan pakaian berwarna ungu…berambut panjang lurus dan indah.. tas berwarna merahpun menggantung manja pada lengannya. Tanpa sadar..aku mulai gelisah…kembali rasa grogi menguasai. Kali ini perasaan itu semakin menjadi dengan diiringi derap jantung yang semakin cepat. Suwer…aku deg-degan. Terus kulihat perempuan itu..namun belum juga memalingkan wajahnya. Kesabaranku makin terhimpit oleh rasa-rasa yang makin berkuasa. Ayolah..menengoklah barang seberapa…wahai kamu sang perempuan. Yakinkan aku kalo memang itu kamu… dan benar saja, dia menengok ke arah kami, Sandra Dewi. Perempuan Sang segala dalam pikiranku. Biang keladi dari inspirasiku. Dia, yang bila hanya melihat kecantikan matanya saja, cukup membuatku kenyang satu hari satu malam. Bagaikan mimpi di siang bolong. Fiuh..sungguh aku ga bisa bilang apa-apa. Terkunci mulut karna terus mengagumi.

Acara promo film berlanjut. Di sela-sela acara aku termangu menonton group band Jiung yang sedang menebar birama-birama musik dalam lagu. Musik dengan ciri khas yang tak asing ditelinga. Mereka menganut aliran seperti bang Benyamin, seorang tokoh betawi. Ternyata, enak juga musik itu didengar ya. Kepalaku mengangguk angguk dalam metronome teratur mereka. Hingga suatu saat, dimana kurasai ada tangan menepuk punggungku. Sontak aku kaget dibuatnya. Aku palingkan wajah ke belakang, belum sampai kulihat siapa dia, si Wiko bilang, “…Sandra dewi”. Yup, betul sekali. Kulihat perempuan itu. Dengan keramahannya, menyapa kami semua. Dengan senyum yang seperti tak habis terpancar dari bibirnya. Senyum terindah dari seorang putri, Sandra Dewi. Dia menghampiri rombongan Sanders dan menyapa satu persatu. Rasanya aku ga percaya apa yang kulihat itu. Bener-bener sempurna serta baik sekali orangnya. Beberapa percakapan yang aku inget adalah: “ada orang berapa yang ikut? Dah dari tadi? Kompak banget seragamnya…bla..bla..bla..”. hehehe.. Aku coba mendekat dan minta foto bareng dia. Dapet juga satu foto pertamaku yang cukup sempurna. sandra dewi

Hingga akhinya percakapan harus berhenti karena dia akan menyanyikan lagu bareng Jiung. Lagu yang merupakan soundtrack dari Film “Tarzan Ke Kota”. Ternyata bagus juga suara Sandra Dewi, memang sih tidak sesempurna penyanyi-penyanyi ngetop. Tapi paling tidak, nada yang dia ambil tepat pada posisi-posisi sebenarnya, dengan kata lain ga fals. Jadi membuat semangatku kembali terpompa.

Acarapun selesai dan kami, Sanders telah sepakat akan makan gudeg bareng di bu Tjitro, lokasi dekat JEC. Sanders tiba duluan, sedangkan Sandra Dewi masih dalam penjemputan pak ketua Vienan. Seperti sebelumnya, kami mengisi waktu ‘menunggu’ itu dengan obrolan, percakapan hangat antar Sanders. Wew.. lumayan lama juga menunggu Sandra Dewi. Waktu sudah melompat satu jam dari rencana semula, jam 18.00.

Dari kejauhan terlihat pegawai parkir rumah makan, mengatur dan mempersiapkan lokasi untuk sebuah mobil yang baru masuk ke pelataran. Itulah mobil Vienan, tentunya juga ada Sandra Dewi didalamnya. Dia segera masuk dan mengucapkan maaf atas keterlambatan yang terjadi. Ah..menurutku kenapa harus minta maaf? Toh aku bisa melihat dan mengenal dia sebagai sahabat sudah cukup membutakanku dalam melihat perbedaan antara terlambat atau tidak. Hehe…(berlebihan yee…wekekkee). Satu persatu Sanders memberikan kado dan bingkisan untuk Sandra Dewi. Diantaranya Wiko dan Soni serta beberapa teman Sanders.

Acara malam itu berlanjut dengan obrolan yang bersifat Sersan (Serius tapi Santai). Kami membicarakan tentang Sanders kedepannya. Tentang rencana Gath Nasional yang akan dilaksanakan bulan Feb. itu baru rencana lho..belum pengumuman…hehehehe…. Sandra Dewi terlihat masih semangat, masih segar, seperti belum melakukan aktifitas sama sekali. Padahal, kita tau sendiri dari pagi hingga malam begini, aktifitasnya begitu padat merayap. Duh…sungguh menambah kekagumanku terhadapnya.

Waktu semakin tidak bersahabat, membisik kami untuk segera meninggalkan RM tersebut. Dalam rencana awal, kami akan berpindah lokasi untuk melanjutkan obrolan kami tadi. Lokasi barunya ada di Timoho, di sebuah angkringan yang cukup terkenal. Apa hendak dikata, angkringan yang kami tuju tutup.

Dan kami akhirnya pulang ke hotel Wisanti tempat Sandra Dewi menginap. Disana pulalah kami melanjutkan barang sebentar obrolan semula. Ditengah-tengah percakapan itu, Sandra Dewi menelpon neng Olip, karena beliau udah nraktir kami makan malam. Waw..baik banget ya neng Olip. Makasih ya dah nraktir…hehehehe…besok-besok gantian deh kalo neng Olip ma Sandra Dewi kejogja, kita yang traktir.(Setuju???….hehehe kalo setuju, lokasi Gath sudah bisa diputuskan kan?..hua..hua..hua..)

Cerita malam itupun berakhir. Satu persatu kami berpamitan dengan Sandra Dewi. Berat sih, tapi apa boleh buat. Biarlah dia istirahat. Sudah barang tentu lelah, dan gerah karena padatnya aktifitas. Sekali lagi, trimakasih ya buat Sandra Dewi. Kamu memang beda. Kamu memang luar biasa. Sungguh-sungguh pantas kusandangkan kau sebagai seorang perempuan yang empunya segala inspirasi di kepalaku. Bukanlah berlebihan, tapi kenyataan. Patut untuk dipuji, tidak pada kecantikan fisikmu saja tapi lebih pada inner beautymu, keramahanmu dan aroma persahabatanmu. Terimakasih Sanders, dan tetap Kompak ya… btw..aku masih belum punya seragam kompak nih…hiks….

 

 

Thanks

Mr.Sedenk

 

Anak Semua Bangsa

Minke, satu dari anak bangsa. Selalu mengagungkan eropa, sebagai yang terdidik dan peradabannya membuai. Bahkan dalam semua tulisannya berbahasa belanda. Hingga suatu saat, keadaan berubah. Eropa telah mengambil nyawa istrinya, dibuang dari tanah jawa menuju Nederland, dibunuh secara perlahan. Hal itu membuka matanya dengan paksa. Mencoba mengenal bangsanya sendiri dengan menulis melayu, dia mendatangi satu dari sekian banyak petani yang tanahnya raib ditelan kebun tebu. Trunodongso dan keluarga, mati-matian mempertahankan tanah mereka. Minke berjanji, akan membantu menyiarkan aspirasi mereka melalui tulisan melayunya ke muka umum. Walau pada akhirnya usahanya gagal.

Nyi Ontosoroh, tak kuasa menerima nyata. Tanah dan usaha selama ini dibangun adalah hasil dari ketidak adilan mantan suaminya Herman Mellema yang dengan kuasa eropa, tega mengambil paksa dari pada petani. Bisa jadi, satu atau dua jengkal tanah itu, adalah milik trunodongso. Atau paling tidak terdapat ratap tangis disana. Trunodongso bersama keluarga diajaknya tinggal diwonokromo, rumah Nyi Ontosoroh, tempat dari hasil rampasan Mantan Suaminya.

Ir Maurits mellema, satu-satunya putra Herman Mellema dari istri pertama datang menemui keluarga Wonokromo itu. Hendak mengambil hak waris atas ayahnya yang telah meninggal. Nyi ontosoroh tak bisa berbuat banyak, dan bersiap kapan saja bila putra Nederland itu hendak menendangnya.

Bagaimana kisah berikutnya…aku belum tahu. Buku Jejak langkah, telah berada dalam angan kepala.

Bersambung….

Sedikit Berbagi Cerita….

Berawal dari pertemuan komunitas mahasiswa sumbagsel. Aku berkenalan dengan seseorang…menurutku, fisikly dia sangat menarik. rambutnya yang lurus sebahu, kulitnya yang agak kuning langsat dan wajahnya yang manis, membuatku cukup punya alasan untuk mengaguminya. dia berkacamata, suaranya lembut dan menyenangkan untuk di dengarkan. melihat caranya berdoa, lebih menyejukkan lagi. khusuk, dan berkonsentrasi… aku suka dia mulai saat itu. Dengan berani aku coba minta no hpnya. 0855…sekian..sekian.. kartu As, ah sama seperti yang saya pakai. Serasa dipermudah untuk berhubungan lg.

Beberapa kali setelah itu, aku sms dia. Sekedar untuk basa-basi serta mengenalnya. Lama kami tak bertemu lagi sejak acara itu. Hingga pada suatu minggu, dia mengajakku pergi kegereja bareng dalam percakapan smsnya yg sering kami lakukan. Inilah kesempatan bagiku, untuk bs bertemu dengan dia lagi. Ku siapkan motorku sedemikian rupa, ku lap bersih sampai seperti baru. Baju ku setrika rapih, dan tentunya kupilih yg terbaik dari koleksiku. Begitupun dengan celananya. Ah.. serasa eksekutif muda, berpakaian rapi dan wangi. Ganteng sekali…gumanku didepan kaca. Mendekati waktu yang kami sepakati, aku berangkat menjemput dia. Ternyata dia sudah menunggu lama. Orang yang disiplin akan waktu. Kesan ke sekian kalinya.

Sepulang dari gereja, kami berjalan2 keliling jogja. Muter2 hingga tugu. Menepi hingga makan, di sebuah warung kecil di daerah jetis. Kambing balab, makanan favorit kami. Sayang, saat itu dia masih sariawan, jd dia makan dalam keterpaksaan lidah, menahan perih setiap suapan. Kami banyak mengobrol, berbincang ngalor-ngidul. Mulai dari hal-hal menyakut kuliah, hobi, keluarga dan sedikit hal pribadi. Tak terasa telah berganti-ganti pembeli dihadapan kami.

Bersambung ya………………………………….

 

 

Hari yang melelahkan

capek
capek

Teman, hari ini badanku serasa mau remuk. Otot2 seakan tak kuasa memberi gerak lebih, Mata enggan menyangga, aku capek banget. Sejak jam 07.00 tadi pagi sampe malam nanti jam 22.00, aktivitasku blm terhenti. Belum sempat merebah sejenak tuk istirahat. Rutinitas yang selalu aku lewati sampai 2th, atau paling tidak sampai kuliahku selesai. Yah, demi mempersiapkan apa yg aku sebut “pembentukan mimpi”. Mimpi yang telah bersumber dari berbagai inspirasi, salah satunya Laskar Pelangi.

Semangat! aku hrs selalu semangat. Hanya itu tongkat penuntunku di masa2 ini. Saat aku merindukan sebuah kebahagiaan di masa ”peraihan Mimpi”. Doakan aku  teman…  

Buku pertama dari tetralogi yang ditulis oleh seorang tua Pramoedya Ananta Toer. Sebuah roman dengan setting cerita awal abad ke-20. sungguh, sewaktu aku membaca buku itu rasanya waktu berbalik dijaman itu. Seakan, aku berada dimana cerita itu meneriakkan kisahnya. Penggambaran yang diberikan padaku sungguh sempurna. Tampak jelas olehku semuanya.

Dalam buku pertama ini menceritakan tentang perjuangan hak rakyat pribumi dari sisi yang berbeda. Bukan menceritakan tentang pertempuran tumpah darah dengan mengacungkan senjata oleh para pejuang kemerdekaan, bukan menceritakan pertempuran pasukan berkuda yang memporak-porandakan kamp militer Belanda, namun lebih ‘sensitif’ dari itu semua. Perjuangan Nyi Ontosoroh dalam memperoleh pengakuan yang syah secara hukum sebagai seorang ibu dalam keluarganya meskipun sang ibu itu hanyalah seorang nyai. Minke, adalah aktor dari Roman tersebut. Dia adalah seorang pribumi dengan darah priyayi, cerdas, rupawan dan semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya untuk menjadi manusia yang bebas dan merdeka.

Selesai membaca buku ini, rasa-rasanya sudah tidak sabar lg untuk melanjutkan di buku ke 2. Bagaimana kelanjutannya ya?

 

Orang ganteng tak melulu mudah mendapatkan wanita. Hal ini telah terbukti. Fiuh… kalian dah pada tau to kalau si Delon (Indonesian Idol) yang disebut-sebut oleh kebanyakan wanita sebagai orang terganteng se-Indonesia, kenyataannya telah ditolak mentah-mentah oleh Sandra Dewi. Alasannya, Sandra Dewi tidak suka dengan cara Delon dalam mengungkapkan perasaannya di hadapan Infotainment. Delon seperti tidak menghargai privasi Sandra Dewi.

Sekarang begini, ada beberapa hal yang akan terjadi jika Sandra Dewi menerima Delon pada saat itu.

1. Delon akan semakin angkuh dan sombong, karena telah sanggup membuktikan pada masyarakat Indonesia bahwa tidak ada seorang wanitapun yang takkan takluk dengan dia.(secara nembaknya disaksikan langsung oleh Infotainment)

2. Posisi Sandra Dewi akan menjadi sulit, karena dihadapan masyarakat Indonesia dia seperti wanita murahan dan lemah. 

3. Hubungan mereka tidak akan langgeng, karena Sandra Dewi yakin bahwa Delon tidak sepenuhnya mencintai dia. Mungkin Delon melakukan itu, hanya untuk kepentingan pribadinya, bukan atas dasar Cinta sesungguhnya.

Nah… aku juga senang dengan keputusan Sandra Dewi. Tetaplah menjadi wanita yang selalu dapat aku kagumi oleh karena semua kelebihanmu….

Mimpiin Sandra Dewi

Huaaaa…..Semalem aku mimpi indah banget. Mimpi ketemu Sandra Dewi nih. Ceritanya, Sandra Dewi kan lagi ngisi acara di jogja, kebetulan acaranya itu bertempat di rumah temen saya Doel Kenyut. Nah, saya langsung aja nemuin dia disana. Kita duduk disofa berwarna merah yang ada di rumah Doel Kenyut. Ngobrol banyak hal tentang kegiatan kami masing-masing. wah..rasanya menyenangkan sekali. Sepertinya ngga pecaya kalo ini semua cuman mimpi karena dimensi yang tercipta semalam benar-benar masuk akal.

Fiuh , sayang sekali aku harus dibangukan oleh suara gaduh sepak bola antara Belanda VS Rusia. Harusnya kumatikan saja semalam TVku.

Sandra Dewi… I LUV U

Senyumanmu yang selalu menghujam rasaku…

Pernahkah kau sadari itu…

 

Parasmu yang telah membuatku hanyut dalam samudera bahagiaku…

Pernahkah kau tau itu…

 

Kerlip kedua matamu yang telah memaksaku untuk semakin mengagumimu dari waktu demi waktu…

Pernahkah kau rasakan itu…

 

Rambutmu yang panjang dan hitam, indahnya telah memukauku…

Pernahkah kau mengerti itu…

 

Kamu beda Sandra. Sungguh berbeda…

Pernah kubandingkan dirimu dengan sebuah berlian…kamu masih lebih indah…

 

Kucoba melihat di dalam hatiku…kenapa hanya namamu disana?

Siapakah kamu hai puteri? Untuk terbangpun aku tak sanggup, luluh oleh dayamu…

 

Darahku telah smakin memerah karnamu…

Andai Tuhan tahu…kuingin Sandra bersamaku…

 

Bukan emas atau harta saja yang menjadi milikmu…

Kasih sayangku akan kuberi padamu seutuhnya….

Kau tau kenapa?

Karena aku Cinta Kamu…

 

Sandra Dewi….Maukah kamu menikah denganku???

 

 

Dulu, aku pernah mendengar sebuah nyanyian riang dari seseorang yang ku anggap malaikat suci. na..nini….nanana..nini…ninininani..nanini…nani…..”, kurang lebih begitulah bunyi liriknya. Sederhana namun dapat melukiskan sebuah gambaran abstrak, kebahagiaan murni didalamnya. Hatiku dibuatnya senang, menari riang mengayun langkah, menuju tempat yang belum bernama.

Saat ini, Malaikatku itu telah pergi. Tanpa jejak menunjuk arah, aku telah kehilangannya. Ingin ku cari dia, mungkin di pribadi lainnya. Semoga kelak kita bertemu lagi, malaikat suci. Dan ajaklah aku dalam relung bahagiamu lagi. Miss U   

Tulisan Sebelumnya »